Sendau Gurau Mingguku

Mengatakanmu sebagai catatan rasanya tak pantas, sebab usang membelaimu penuh kekosongan. Hari ini mingguku, aku tergeletak di atas matras milik kawanku. Tebal, nyaman dan merilekskan badan yang mungkin kelelahan. Menghitung waktuku yang sudah berminggu berlalu ditempat baru ini. Mencoba mencari rejeki dari pengembang properti, aku yang baru lulus kuliah setelah sekian lamanya akhirnya bekerja juga dengan sarjana dan aku mendaftar tanpa ijazah. Rasanya aku terlalu banyak menerka harus bagaimana dan berbuat apa, mengenal dunia yang seutuhnya berbeda dengan yang biasa aku sapa. Terkejut atau kaget lebih tepatnya, ini sangat berbeda tak sama jauh sekali berbeda dengan yang aku duga. Mereka sudah mengenal bagiannya, sedangkan aku hanya apa? Anak muda yang menua bermodal gelar sarjana yang tak seberapa. Apa yang bisa aku beri pada tempatku bekerja? Sungguh ironi jika mengandalkan IPK tapi buta akan segala bagiannya. Terus terang saja aku terlalu dibatasi ekpektasi dan realita. Semuanya berbeda, tanggungjawabku dimana untuk menjaga tetap bergelora segala budaya dalam tempat kerja? Aku terlupa oleh saya, bahwa masanya tak lagi seperti dahulu kala ketika kau buta dan menutup mata. Mengejar beasiswa untuk kuliah semata, sedang kuliah kau tak tahu isinya. Pengetahuanmu tentang sarjana adalah wisuda dan memakai toga. Sudah itu saja, sampai kapan kau benar-benar punya cita-cita nyata? Aku bertanya pada saya, katanya bersendau gurau tapi tak tahu tujuan hidupnya. Keburu menua! Ayo kerja dan berkarya.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar