Simplisia, Diri!

Sudah menjadi selesai, belum terjadi usai.

Tersimpan dalam kering maupun basah, menanti diolah agar semakin bergairah.

Sampai sadarku merekah, hingga datang terhimpit gundah dan resah.

Aku lelah, bertumpuk dalam angan dan amarah yang terus berubah dan berubah tanpa berbenah.

Menjadi bagian yang terjamah namun kadang lupa untuk menjadi wadah penuh ranah.

Aku tidak menjadi parah tidak pula terbelenggu jiwa dan pikir yang entah.

Sebab setiap ujung jari menjamah, hilang lengah dari segala perintah yang digubah suara tanpa patah.

Aku masih angkuh dengan bisik-bisik kisah rajah, tanpa panah tanpa kerah hanya mengalir dalam darah.

Catatan yang tercacah dengan penuh pepatah, mungkin jelajah telah kalah oleh nafsu serakah lupa menjadi berkah.

Kering tepi pengolah nanah, dengan bisa menyergah seluruh jatah aliran darah.

Petir mengalir bagai bilah, menghimpit mata yang melangkah bersama titah menggapai anugerah yang hilang tersergah.

Memang huruf-huruf tertatah, memang nama-nama berkilah, memang sememang-memangnya suara bocah.

Merintih meminta menukik celah, membelah mencari remah-remah yang membongkah tanah-tanah petuah.

Adatmu terlalu sudah bagi aku yang sering diberi mudah, jiwaku belum terlatih terasah, pikirku belum mendedah.

Selesailah pasrah, kadang terserah adalah lelah-lelah yang tercurah bersama langit cerah.

Aku diujung ceramah, merangkai keringnya basah, menyimpan jamu teramah, menengok dalam tengadah, masih adakah gundah dalam jiwamu yang tanpa arah? berusaha mencari ranah memaki jatah, lupa berterimakasih syukur pada Sang Ilah.
Diri!

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar