Bukan Hanya Sarjana “Waktu”

Mulanya hanya ada satu sindirian yang menyentil telinga, meski hanya berasa biasa karena sentilan ini seperti semut yang “nemplok” di kuping, tapi semakin mendenging telinga ketika sentilan ini masuk ke dalam telinga. “Tuhan, beneran ini apaan sich?” dalam pikirku yang sedang dirambati oleh segala sentilan-sentilan penuh pemikiran lagi. Ya, benar pemikiran dalam pemikiran yang masih berpikir, keras dan kejam menggerogoti setiap labirin dalam lipatan otakku yang semakin menebal dimakan usia.

Perasaan seperti masih kekanakan selalu timbul ketika banyak problema bertumpuk, ya bertumpuk-tumpuk dalam pikir. Bisikan yang semakin mengeras juga memaksa untuk berujar bahwa “Waktu akan selalu memberi pelajaran untuk terus melengkapi diri”. Setiap pelajaran tersebut bagaikan “Bintang dengan segala kekuatan reaksi nuklirnya yang terus meledak-ledak”. Melihat dalam gelapnya dunia karena dalam “Kegelapan yang paling gelap, dapat terlihat seberapa terangkah diri”. Terus melangkahlah, berhentilah seperti ketika menemukan “Kekayaan yang terpendam dalam kenyataan”.
Teruskan mencari setiap tujuan, mencari dan terus mencarilah sampai ditemukan setiap tujuan di balik setiap tujuan yang “Selalu tegar mendidik diriku”. Selalu ada catatan indah yang terpampang, sebagai kenangan dari masa lalu, keadaan pada saat sekarang, serta bertumpuk harapan di masa yang akan datang. Setiap catatan itu menggoreskan pada kertas kehidupan yang “Bertuliskan cerita tentang cinta dan derita.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s