Sulung

Layaknya awal yang menunjukan jalan, itulah proses sebuah pengertian. Demikian usaha yang dilakukan untuk menjadi pembuka jalan, banyak didikan yang diciptakan oleh Bapak dan Ibu yang sejatinya bukanlah “sulung” beliau bersama menjadikan aku layaknya seorang yang harus menjadi teladan untuk kedua adikku. Aku disediakan berbagai pengertian yang aku harus mengerti, dari bagaimana aku disayang saat aku masih sendiri sebagai “sulung” tanpa adik, dari bagaimana beliau berdua rela memberikan segalanya untuk diriku, itu yang aku tahu sejak dahulu aku mulai dapat berpikir sampai saat ini. Begitupun teladan yang ditanamkan dalam pikirku, segala lakuku harus dapat menjadi teladan kedua adikku. Adik-adik yang dulu masih kecil saat aku mulai beranjak remaja. Saat ini ketika kedua adikku beranjak menjadi dewasa, terlintas dalam pikirku bahwa aku hanya memberi sedikit teladan bagi mereka. Bukan aku merasa orangtuaku belum berhasil mengajarku dengan segala didikan beliau, aku hanya merasa bahwa “standar” teladan yang aku terima dari didikan adalah terlampau tinggi untuk aku lompati.

Saat aku harus menjadi sempurna, dan segala tutur serta apapun yang aku perbuat adalah cerminan untuk adik-adikku yang manis, wanita-wanita hebat yang menembus batas “standar” yang ada padaku. Mereka mampu menjadi wanita-wanita berprestasi, ketika pendidikan “akademik” yang aku peroleh adalah teladan bagi mereka. Sebagai sulung dan satu-satunya laki-laki keturunan Bapak dan Ibu sampai saat ini, aku harus memberi teladan yang hebat untuk kedua adikku. Aku tahu mereka bersaing dengan pencapainku yang sampai saat ini juga mungkin masih belum sesuai dengan “standar” sulung dari Bapak dan Ibu. Aku ingat saat Bapak dan Ibu membandingkan mereka (adik-adikku) dengan diriku, saat itu aku sadar bahwa akupun bukanlah sempurna, dan akupun mulai mencari kebebasan dari belenggu ke”sulung”anku. Segala hal menjadi pelampiasanku, mulai dari setiap pelanggaran yang aku perbuat, pemberontakan-pemberontakan dan kemalasan yang selalu mengiringi jalanku.

Bapak dan Ibu terkadang tak mengerti jalan pikirku, seperti usahaku untuk mengertikan setiap didikan yang aku terima dari beliau berdua yang harus aku pikirkan sampai waktu-waktu yang tak tentu, terkadang nasihat yang aku terima saat ini baru aku mengerti maksud dan tujuannya setelah beberapa bulan bahkan bertahun-tahun yang akan datang. Setiap “demokrasi” yang beliau berikan padaku adalah didikan untuk mengambil keputusan, aku sebagai sulung yang dituntut sebagai “perfect” dan harus dapat mengalah, aku terkekang dalam sulung sehingga ingin lari meninggalkan kesulunganku. Apakah hak ke”sulung”an ini harus aku korbankan bersama kebebasan yang tanpa tanggungjawab? Kebebasan yang sebebas-bebasnya diriku bertindak tanpa batasan “teladan” dan “perfect“. Menghancurkan aturan, merombak aturan dan melawan dengan tersirat, seperti didikan yang aku terima yang selalu tersirat. Sulung yang bertanggungjawab akan sebuah atau banyak keputusan, dimana akupun harus dapat mengalah ketika aku dituntut menjadi sempurna, ketika aku harus berusaha menjadi terbaik dan sesuai segala harapan yang ditanamkan pada badan dan pikirku. Akulah sulung dan akulah itu, dalamku bersemayam sulung dengan jalan yang aku buka, silahkan nilai aku.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pemikiran, Pengungkapan, Perasaan, Poem. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s