Aku Kamu dan Negeri Khatulistiwa

Sejuknya menghangatkan, senyumnya memberikan sedikit nafas tambahan untuk tetap beranjak meski malam masih segelap kemarin. Dari ujung malam sampai ke ujung malam yang lain, berbincang tentang sengat sang mentari yang sedang mengurung diri untuk memejamkan matanya dari hari. Sehelai daun akan sangat berarti jika hujan tiada henti membasahi ibu pertiwi atau yaang mungkin sekarang menjadi ibu tiri, bumi ini milik sendiri tapi yang menjadi isi adalah ilusi dari negeri antah berantah, sebut saja aku negeri kaya sang ekuator dengan tawa dan sapaan ramahnya memanggil mereka hadir untuk mengisi dan mengurangi. Seperti kata hati ini, ingin beranjak mengejar mimpiku untuk memiliki tak hanya bermimpi untuk mengingini diri sejati jiwamu yang suci, kamu yang di bumi sama, tempat aku sebut ini tanah negeri. Aku mungkin sebut ini sayang, mereka mungkin sebut ini cinta, mengasihi negeri sampai mati, sampai kapan aku tahu semua jika sesemu mimpi tanpa henti.

Sejenak berangan lain, aku beranjak pergi dari negeri yang diperjuangkan dengan mempertaruhkan nadi hingga terhenti, negeri yang bahkan dijual kembali untuk mengenyangkan perut pribadi yang berkroni. Seperti sayang ini yang memaksa aku bermimpi jujur dalam kebohongan bahwa aku benci hanya berhenti menjadi melodi sesaat yang sesat, senyummu dan keluguanmu, seperti negeri pertiwi yang sedang dijamah oleh asing berkeinginan memiliki dengan begitu keji. Tersenyum aku sipuan canda dalam cakap kita yang berbeda tapi sama, layaknya tanah negeri yang sama dan heterogen penuh intrik, kejam bagai pisau tajam lupa merajam. Seandainya negeri ini mengurus dirinya sendiri, dan mampu berdikari apakah mereka yang disini mau hidup dengan hanya makan nasi tanpa roti isi? Segarnya kopi dari setiap sudut negeri bercerita tentang nikmatnya tinggal di negeri cinta yang kaya namun sengsara atau hanya lupa untuk berfoya-foya? Mungkinkah hanya sejenak saja meninggalkan pesta untuk semua?

Kita masih disini, aku berujar jika kamu tahu dan mungkin kamu akan tahu jika hanya aku memberi tahu, sebuah candaan dari keseriusan, aku berujar dalam keingusanku, aku terlalu jalang atau bahkan sangat lancang untuk bilang sayang. Sesungguhnya tertidur sejenak di bumi yang nyaman ini mengantarkan aku bercerita lebih sungguh denganmu, dengan waktu dan masa yang terus beranjak tapi bukan lari. Keceriaanmu mengantarkan aku berujar bahwa seperti itulah negeri ini seharusnya penuh suara dan canda, tawa gembira mengantar tidur nyenyak umat di negeri ini, bangsa penyanyang anak cucu, lupa diri berujar dalam kisah sendiri. Negeri ini butuh candamu dan tawamu, seperti aku membutuhkanmu jadi jiwaku yang sempat lenyap terkubur bersama egois mencapai puncak, terpendam dalam awan racun perenggut imanku, bisikku pada diri bahwa aku akan beranjak pergi menjadikan ini sebuah bayangan dunia ide.

Kamu bukan lukis di kanvas, kamu adalah realitas senyum berparas jelas dan lugas. Lugu bukan artinya tak tahu, seperti bumi ini yang seolah bisu tapi sedang berkoar bahwa aku ingin bergegas menjadi buas saat mereka merampas, ketika mereka menguras, mulai dari yang berkualitas bahkan hingga yang hanya ampas. Kamupun begitu membuatku berhenti dikuasai kenyamanan, aku lepas keinginan untuk terus bermalas dan segera bergegas membuat banyak prioritas, tawa yang membuat pikir tegas seperti beras yang bernas membuat bangsa ini terus membawa bekasnya kepada semesta, bumi hangat yang sepanjang hayat masih ingat untuk menahan nikmat akan tetap aku senyumkan ini sebuah rasa syukur untuk kerabat dan sahabat, untuk kamu yang akan aku usahakan untuk mendekat membuat aku selalu ingat bahwa aku harus giat berbuat bukan hanya bergeliat dengan mulut tak berkawat, aku berkawan pada impianmu, semangatmu mengingatkanku aku berbuat sama begitu semangat saat aku mulai berbuat, aku mungkin telah keliru, kepastian yang aku tahu negeri ini penuh nikmat dan hikmat, akan mengajarkan banyak perkara hebat, negeri ini akan tetap hangat meski hujan lebat, negeri ini seharusnya tetap berhutan padat dan rapat agar keturunan kita nanti melihat bahwa negeri khatulistiwa ini sangat diberi berkat, negeri yang mempertemukan aku dan kamu mempertemukan kita saat aku rehat, rehatku yang bejat dan jahat, semoga aku pernah jahat dan semoga aku pernah bejat sehingga aku bisa menjadi hebat dan berhikmat, dapat berbagi nikmat dan berkat.

Tertuliskan dari pikir yang masih penat melawan sisi jahat dan bejat, seorang sulung yang diramal menjadi hebat sampai masa rehat telah lewat, hingga masa menjadi penggulat manusia penat memberikannya batas yang melekat di jidat bahwa hidup itu sekedar menjadi hebat dengan hikmat yang diajarkan negeri khatulistiwa bagi kamu dan aku, hanya berharap akan ada ikat.

https://www.facebook.com/notes/yosie-setiadi/aku-kamu-dan-negeri-khatulistiwa/10152991991606081?pnref=story

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s