Apakah Pikirmu? (Masih Kandidat)

Menendang paruku lebih dari sekedar kabut asap dari hutan ataupun hasil “rekayasa” hutan untuk gerombolan Elaeis guineensis, memukul lambungku lebih dari asam askorbat yang berkolaborasi bersama Capsaicin hasil perasan Capsicum annuum dalam sambal bawang “Allium sativum”. Sudahlah ini tetap lebih kejam, ini tentang tempo dimana sulung yang menjadi tiang penggantung dan penghubung masih berdiri di atas lumbung menanti hujan dibalik mendung. Hidup memang senikmat Parkia speciosa, namun ingatlah aroma menyengatnya membuat tiada nyaman sesama.
Sesungguhpun dapat dinikmati hidupmu sendiri, namun kenangkan bahwa hidupmu lebih dari kenikmatan sesat sesaat. Sudah usaikan segera perjalanan panjang menggauli masa jahanam dam pikirmu. Esok sudah hari minggu, masihkah engkau menggerutu memeluk keyakinanmu? Sudahkah engkau bersekutu dengan Tuhanmu? Berapa hembus nafaskah yang kau perlu untuk bertemu dengan-Ku? Sekedar jumpa dengan-Ku untuk meyakinkan jiwamu melanjutkan jengkal langkah kakimu, melanjutkan ukiran hidupmu yang indah seperti ukiran dari kayu Tectona grandis Jepara maupun Blora. Sudah terlalu banyak pewaktu di ruang pembatasmu, dari kayu dari logam maupun dari plastik, mereka mengajakmu berbisik agar tubuh dan pikirmu terusik segera pergi untuk balik.
Tataplah dindingmu “Since you always give energy” masih melekat erat dipikirmu, mereka adalah bahan bakarmu, kamulah yang menjadi pemantik membakar energi mereka bersama oksigen yang tereduksi dalam oksidasinya. Memang kau bukanlah ilmuan tapi setiap helai rambutmu masih terkandung kitin dan rangkaian DNA dari Ayah dan Ibumu, penyalur darah dari Kakek dan Nenekmu, pembawa kenampakan dari Kakek Buyut dan Nenek Buyutmu. Sudahlah Oryza sativa menanti untuk segera dipanen, dia ingin bersekutu dengan Zea mays untuk mengenyangkan anak bangsa memberi ‪#‎Nusantara‬ energi untuk berkuasa akan dirinya.
Sungguhpun sampai saat ini kau terbang, perlu banyak perkara lagi yang harus kau daki, butuh berbagai hal lagi untuk engkau selami, jadi melayanglah tinggi bersama benih Anaphalis javanica mengakar menjadi pelopor tanah vulkanik yang akan menjadi subur. Jadi gapailah langitmu dengan telapak kakimu.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pemikiran dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s